JAKARTA - Menjelang lonjakan arus mudik Lebaran 2026, kesiapan fasilitas publik menjadi perhatian penting untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan masyarakat.
Di tengah tingginya mobilitas pemudik yang menempuh perjalanan jarak jauh, kebutuhan akan tempat singgah yang aman, mudah diakses, dan ramah pemudik semakin mendesak. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) mengambil langkah konkret dengan mengoptimalkan peran rumah ibadah sebagai ruang pelayanan publik.
Sebanyak 6.859 masjid di berbagai daerah mulai dipersiapkan untuk menjadi tempat transit gratis bagi pemudik selama periode mudik Lebaran 2026. Fasilitas ini dirancang untuk membantu pemudik beristirahat sejenak, mengurangi kelelahan di perjalanan, serta meminimalkan risiko kecelakaan akibat kondisi fisik yang menurun. Program ini juga mencerminkan perluasan fungsi masjid sebagai pusat pelayanan sosial yang inklusif.
Program Ekspedisi Masjid Indonesia Jadi Fondasi Layanan Mudik
Pemanfaatan ribuan masjid sebagai tempat transit pemudik dijalankan melalui program bertajuk Ekspedisi Masjid Indonesia 2026. Program ini digagas oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag sebagai bagian dari upaya strategis mendukung kelancaran arus mudik nasional.
Masjid-masjid yang dilibatkan umumnya berada di sepanjang jalur mudik utama dan difungsikan untuk buka selama 24 jam. Dengan jam operasional penuh, pemudik dapat singgah kapan saja sesuai kebutuhan perjalanan. Keberadaan masjid di berbagai titik jalur mudik dinilai sangat strategis karena mudah dijangkau, dikenal masyarakat, serta memiliki fasilitas dasar yang memadai.
Program ini juga disiapkan untuk berlangsung sepanjang periode mudik, yakni mulai H-7 hingga H+7 Idul Fitri. Dengan durasi tersebut, masjid diharapkan dapat melayani pemudik baik pada puncak arus mudik maupun arus balik.
Keselamatan Pemudik Jadi Alasan Utama Penyediaan Tempat Singgah
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa penyediaan tempat transit bagi pemudik memiliki tujuan utama untuk meningkatkan keselamatan di jalan. Ia menilai kelelahan pengemudi masih menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan selama musim mudik.
“Beristirahat sejenak bisa menyelamatkan nyawa, mencegah musibah karena kalau sopirnya ngantuk lalu terjadi kecelakaan,” ujar Nasaruddin Umar saat menerima audiensi Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Jakarta, Senin.
Menurutnya, masjid dapat menjadi ruang aman bagi pemudik untuk berhenti, beristirahat, dan memulihkan kondisi fisik sebelum melanjutkan perjalanan. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu menekan angka kecelakaan lalu lintas selama periode Lebaran.
Koordinasi Hingga Daerah untuk Pastikan Kesiapan Fasilitas
Agar program berjalan optimal, Kemenag telah melakukan koordinasi internal secara berjenjang, mulai dari tingkat pusat hingga Kantor Urusan Agama (KUA) di kecamatan-kecamatan. Koordinasi ini dilakukan untuk memastikan seluruh masjid yang terlibat benar-benar siap dari sisi fasilitas, kebersihan, hingga pengelolaan layanan bagi pemudik.
Masjid yang difungsikan sebagai tempat transit diharapkan menyediakan fasilitas dasar yang menunjang kenyamanan perjalanan. Fasilitas tersebut meliputi ruang istirahat bagi pemudik, toilet bersih, serta sarana air wudhu yang layak. Selain itu, masjid juga diimbau menyediakan air minum gratis dan fasilitas pengisian daya ponsel agar pemudik tetap terhubung selama perjalanan.
Area parkir yang aman dan bebas biaya juga menjadi perhatian penting. Dengan parkir yang memadai, pemudik dapat meninggalkan kendaraan tanpa rasa khawatir. Beberapa masjid bahkan dianjurkan menyediakan ruang laktasi, terutama untuk mendukung pemudik yang bepergian bersama bayi atau anak kecil.
Masjid Sebagai Ruang Publik Humanis Selama Mudik
Selain fungsi istirahat, masjid juga diharapkan menjadi ruang yang ramah dan humanis bagi seluruh pemudik. Menteri Agama menyampaikan harapannya agar masjid dapat menyediakan takjil bagi pemudik yang masih menjalankan ibadah puasa Ramadan selama perjalanan mudik.
Peran masjid sebagai ruang pelayanan publik ini dinilai semakin relevan mengingat tingginya penggunaan kendaraan pribadi dan sepeda motor di jalur utama seperti Pantura, Trans Jawa, dan Trans Sumatera. Pada jalur-jalur tersebut, kebutuhan tempat singgah yang mudah dijangkau menjadi sangat penting untuk menjaga kondisi fisik pengendara.
Agar mudah dikenali, masjid yang tergabung dalam program ini akan diberi penanda khusus di jalur utama. Dengan adanya penanda tersebut, pemudik tidak perlu ragu atau bingung untuk singgah dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Keterlibatan Lintas Agama dan Dukungan Kemanusiaan
Program ini juga menunjukkan pendekatan inklusif dengan membuka peluang keterlibatan rumah ibadah lain. Di sejumlah wilayah seperti Sumatera Utara dan kawasan Indonesia Timur, gereja turut difungsikan sebagai ruang singgah dan bantuan kemanusiaan bagi pemudik.
Langkah ini menegaskan bahwa rumah ibadah dapat berperan sebagai ruang kemanusiaan yang terbuka bagi semua lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama. Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan arus mudik Lebaran 2026 diharapkan berjalan lebih aman, nyaman, dan terkoordinasi melalui kerja sama lintas kementerian dan lembaga.