Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 20 Februari 2026

Jumat, 20 Februari 2026 | 15:10:36 WIB
Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 20 Februari 2026

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan pelaku pasar menjelang penutupan perdagangan akhir pekan.

Pada Jumat, 20 Februari 2026, rupiah diperkirakan bergerak tidak stabil dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Dinamika tersebut dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membayangi pasar keuangan.

Fluktuasi rupiah terjadi di tengah sikap pemerintah yang menegaskan komitmennya menjaga stabilitas fiskal tanpa membebani masyarakat melalui kenaikan pajak, serta ketidakpastian global akibat perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Kondisi ini membuat investor cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil posisi di pasar valuta asing.

Rupiah Diproyeksikan Bergerak di Rentang Rp16.890—Rp16.930

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak fluktuatif namun berisiko ditutup melemah di kisaran Rp16.890—Rp16.930 pada perdagangan hari ini, Jumat, 20 Februari 2026. Proyeksi tersebut mencerminkan tekanan yang masih membayangi mata uang Garuda meskipun terdapat sejumlah sentimen penahan dari dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sebelumnya ditutup melemah 0,06% ke level Rp16.894 per dolar AS pada Selasa (10/2/2026). Pada waktu yang sama, indeks dolar AS justru tercatat terkoreksi sebesar 0,08% ke posisi 97,62. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak sepenuhnya disebabkan oleh penguatan dolar, melainkan juga faktor domestik yang memengaruhi persepsi pasar.

Sentimen Domestik: Sikap Pemerintah Soal Pajak Jadi Perhatian

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini tidak dapat dilepaskan dari sentimen dalam negeri. Salah satu faktor utama adalah sikap pemerintah terhadap rekomendasi Dana Moneter Internasional (IMF) terkait kebijakan fiskal.

Di dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menolak usulan IMF untuk menaikkan pajak penghasilan (PPh) karyawan sebagai upaya menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada di bawah level 3%. Pemerintah menilai bahwa kenaikan tarif pajak belum tepat dilakukan sebelum kondisi ekonomi nasional benar-benar kuat.

Menurut Ibrahim, langkah tersebut mencerminkan kehati-hatian pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan daya beli masyarakat. Ia menilai, alih-alih menaikkan pajak, pemerintah seharusnya lebih fokus pada perluasan basis pajak dan menutup kebocoran penerimaan negara. ”Selain itu, pemerintah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar penerimaan pajak meningkat secara alami dan defisit anggaran dapat ditekan,” katanya.

Pandangan IMF dan Respons Pasar Keuangan

Dalam kajiannya, IMF sebelumnya menyarankan Indonesia untuk meningkatkan pajak karyawan secara bertahap sebagai salah satu sumber pendanaan negara. Menurut lembaga moneter internasional tersebut, peningkatan investasi publik berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

”Salah satu opsi yang disimulasikan adalah kenaikan pajak penghasilan tenaga kerja secara bertahap untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan melalui defisit anggaran,” kata Ibrahim mengutip pandangan IMF. Namun, respons pasar terhadap wacana ini cenderung berhati-hati, mengingat kebijakan fiskal sangat berpengaruh terhadap sentimen investor dan stabilitas nilai tukar.

Penolakan pemerintah terhadap usulan tersebut dinilai memberi sinyal bahwa fokus utama tetap pada pemulihan ekonomi dan peningkatan aktivitas produktif, bukan pengetatan fiskal yang berisiko menekan konsumsi domestik.

Tekanan Global: Geopolitik dan Arah Kebijakan The Fed

Dari sisi eksternal, sentimen negatif datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi memanas setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Iran gagal memenuhi tuntutan utama Amerika Serikat dalam perundingan yang tengah berlangsung. Ketegangan ini mendorong investor global cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman.

Selain itu, pasar keuangan global juga mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve. Pelaku pasar disebut telah menurunkan ekspektasi terhadap penurunan suku bunga The Fed pada tahun ini, meskipun kontrak berjangka dana The Fed masih menunjukkan kemungkinan pemangkasan suku bunga pada Juni mendatang.

“Investor sekarang menunggu data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang akan dirilis pada hari Jumat, indikator inflasi pilihan Fed, untuk mendapatkan arahan yang lebih jelas tentang kebijakan moneter,” kata Ibrahim. Data tersebut dinilai krusial karena akan memengaruhi arah pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Proyeksi Akhir Pekan: Rupiah Cenderung Melemah

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan bahwa pada perdagangan akhir pekan hari ini, Jumat (20/2/2026), rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan ditutup melemah. Kisaran pergerakan diperkirakan berada di level Rp16.890 hingga Rp16.930 per dolar AS.

Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar yang masih menanti kepastian dari data ekonomi global serta perkembangan kebijakan fiskal dan moneter. Meski demikian, stabilitas makroekonomi domestik diharapkan tetap menjadi faktor penopang agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.

Terkini